Kumandang adzan subuh terdengar damai sambil ditemani oleh kabut dan hawa dingin yang terlihat dari asap mulut saat bercakap dalam perjalanan kami menghabiskan masa liburan terhitung tanggal 19-21 april di gunung yang memiliki ketinggian 2665 mdpl (meter di bawah permukaan laut) sekitar 70km sebelah tenggara kota bandung, yaitu Gunung papandayan. Ya beginilah suasana kecamatan cisurupan, kabupaten garut, Jawa barat ini menyambut kami dengan ramah. Karna dibanding memilih mall di hiruk pikuk kota yang hanya akan membuat sesak, kami memutuskan untuk menghabiskan masa liburan kami di ‘Mall’-nya para pecinta alam yaitu gunung. Kami turun dari sebuah truk di dekat masjid cisurupan yang mengangkut kami dari cibitung menuju gunung papandayan dengan bermodalkan uang Rp.30.000 untuk satu orang penumpangnya. Kami pergi pada pukul 01.00 WIB dan sampai sekitar pukul 04.40 WIB.
Sesampainya disana kami bersinggah di masjid untuk melakukan sholat subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke basecamp. Kami melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan menggunakan pickup yang kami sewa sekitar Rp.300.000 dengan total jumlah penumpang 12 orang. Kami berjalan pukul 05.13 menuju ke basecamp. Dan selama perjalanan ke basecamp, mata kami dimanjakan dengan suguhan pemandangan gunung cikuray yang berada tepat di depan mata. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 06.20 wib dengan susana dingin yang masih menusuk ke tulang, lalu melakukan pendataan dan membayarkan Simaksi (surat izin masuk kawasan konservasi) sebesar Rp.65.000/orangnya, Simaksi ini termasuk cukup mahal untuk ukuran sebuah gunung pendakian, namun karena papandayan sudah menjadi obyek wisata, maka tidak heran dengan perbandingan harga antara gunung ini dan yang lainnya.
Disana kami mulai merapikan semua perlengkapan kami, berganti baju, dan makan pagi di warung-warung yang tersedia. Makanan disini terjangaku murah, saya memakan nasi dan beberapa lauk serta menikmati teh hangat hanya mengeluarkan uang sebesar Rp.15.000,-.
Sesampainya disana kami bersinggah di masjid untuk melakukan sholat subuh sebelum melanjutkan perjalanan ke basecamp. Kami melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan menggunakan pickup yang kami sewa sekitar Rp.300.000 dengan total jumlah penumpang 12 orang. Kami berjalan pukul 05.13 menuju ke basecamp. Dan selama perjalanan ke basecamp, mata kami dimanjakan dengan suguhan pemandangan gunung cikuray yang berada tepat di depan mata. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 06.20 wib dengan susana dingin yang masih menusuk ke tulang, lalu melakukan pendataan dan membayarkan Simaksi (surat izin masuk kawasan konservasi) sebesar Rp.65.000/orangnya, Simaksi ini termasuk cukup mahal untuk ukuran sebuah gunung pendakian, namun karena papandayan sudah menjadi obyek wisata, maka tidak heran dengan perbandingan harga antara gunung ini dan yang lainnya.
Disana kami mulai merapikan semua perlengkapan kami, berganti baju, dan makan pagi di warung-warung yang tersedia. Makanan disini terjangaku murah, saya memakan nasi dan beberapa lauk serta menikmati teh hangat hanya mengeluarkan uang sebesar Rp.15.000,-.
Setelah selesai bersiap-siap sekitar pukul 08.00 kami memulai pendakian. Pemandangan pertama yang tersaji di depan mata masih berupa aspal. Hingga beberapa langkah setelahnya mata kami ditujukan pada tangga-tangga landai yang cukup mudah untuk di lalui oleh para pendaki pemula diiringi pula dengan pemandangan kawasan belerang yang membentang.
Hawa dingin dengan sinar matahari yang terik menemani perjalanan kami dari satu tempat peristirahatan ke tempat peristirahatan lain. Disini saya menyarankan untuk menggunakan buff/ masker dengan maksud untuk melindungi kulit wajah dari sengatan sinar matahari serta bau belerang yang cukup menyengat. Mungkin bagi para pendaki pemula, gunung ini sangat cocok di jadikan destinasi pertama untuk pendakian pertama, karena papandayan masih memiliki banyak sumber logistik yang dapat membantu perjalanan pendakian. Adanya warung-warung yang bisa dijadikan tempat singgah dan mengisi perut kosong serta jasa antar tas carrier menuju tempat camp dengan menggunakan motor bagi para pendaki yang merasa tidak kuat untuk menanjak sambil membawa tas carrier. Lalu untuk biayanya sendiri bagi kami cukup mahal namun sesuai dengan sulitnya medan yang harus di tempuh oleh jasa kurir tersebut. Biayanya bisa sekitar Rp. 50.000.- sampai Rp.100.000.- sesuai dengan lokasi tempat berkemah.
Setelah berjalan sekitar 1 jam kami beristirahat beberapa kali dan terakhir memutuskan untuk beristirahat kurang lebih selama 30 menit karena salah satu dari anggota kami ada yang kelelahan. Karena waktu istirahat yang cukup lama menyebabkan kami harus berpisah dan terbagi menjadi 3 tim. 3 orang pertama sudah berjalan lebih dulu, dan karena memakan waktu yang cukup lama untuk menunggu salah satu rekan kami yang kelelahan, saya dan 3 rekan lainnya memutuskan untuk menyusul tim pertama.
Setelah disuguhkan dengan jalanan berbatu dan bau belerang yang menyengat ke hidung. Kami mulai memasuki kawasan hutan untuk mencapai tempat kami akan bermalam. Jalanan sudah tidak semudah awal pendakian, sedikit curam namun masih terhitung mudah untuk di lewati. Jalanan cukup licin dan para pendaki harus berhati-hati karena ada beberapa jalan yang memang sedikit curam dan ada jalan yang curam yang biasanya sering di lewati para pendaki awam karena jalur curman terhitung lebih cepat.
Selama perjalanan beberapa kali kami berhenti untuk sekedar menarik nafas dan beristirahat sembari menunggu teman-teman kami yang tertinggal. Karena merasa tertinggal cukup jauh dari kawan yang lain, kami memutuskan untuk menunggu mereka. Hawa dingin masih belum menghilang dan masih menyelimuti jari-jari. Lalu kami memutuskan untuk menunggu teman-teman kami di sebuah warung sambil tidur, makan dan berbincang sejenak.
Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, saya dan teman-teman yang tertinggal sudah berkumpul dan bersiap untuk menuju pondok saladah. Pondok saladah sendiri merupakan sebuah camping ground yang terletak di gunung papandayan yang biasa di jadikan tempat berkemah para pendaki, selain pondok saladah ada camp david yang bisa dijadikan opsi untuk dijadikan tempat bermalam.
Sesampainya kami di pondok saladah, kami mulai memasak dan mendirikan tenda sambil bercakap-cakap sederhana. Waktu kami mendirikan tenda sangat berdekatan dengan adzan ashar. Nah bagi para pendaki yang camping disini tidak perlu khawatir untuk sholat dimana. Karena di area ini di fasilitasi sebuah pondok yang biasa di jadikan masjid serta kamar mandi yang lengkap dengan air yang mengalir. Setelah tenda berdiri dan makanan telah siap kami mulai menyantap makanan bersama-sama dengan suasana dingin yang masih memeluk tubuh-tubuh kami yang mulai membuat suhu tubuh kami semakin menurun.
Pagi pun tiba, matahari masih belum menunjukan tanda tanda kebangkitannya, saya memilih untuk tetap di dalam tenda sembari menunggu beberapa teman terbangun. Namun tamu bulanan yang datang pada saat yang tidak tepat membuat saya harus bergegas ke kamar mandi. Dingin papandayan di pagi hari benar-benar menusuk saya kali ini, setelah bertahan berjam-jam dengan keaadaan dingin didalam tenda, sekarang saya harus melawan dingin udara pagi di gunung papandayan.
Saat kesemua dari kami sudah membuka mata, saya mulai untuk memasak masakan pagi untuk di makan bersama, dimulai dari nasi, sayur asem, nugget, dan makanan ringan lainnya untuk mengisi kekosongan perut pagi hari.
Pada pukul 07.00 saya dan ke 4 kawan saya memutuskan untuk berkunjunng melihat edelweis yang tumbuh dekat dengan pondok saladah, jumlah edelweis di dekat pondok saladah sudah tidak sebanyak dulu, ada beberapa yang layu dan beberapa sudah di tebang. Tapi itu tidak mengurangi keindahan pemandangan edelweis yang terpampang itu sendiri. Kami memutuskan untuk menikmati pemandangan sembari mengabadikan berbagai momen.
Kami turun melewati jalur yang sudah di sediakan untuk para pendaki serta wisatawan. Mengapa para wisatawan?
Pasalnya bagi para wisatawan yang hanya ingin menikmati keindahan hutan mati namun tidak ingin berkemah,ataupun para pendaki yang ingin mengambil jalur tecepat menuju camping ground, mereka akan melalui jalurini. Jalur yang jelas lebih cepat tanpa perlu melewati pondok saladah atau jalanan hutan. Setelah beristirahat dan berfoto-foto, kami menuruni tangga bebatuan dan menuju ke tepat parkir, perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam.
Kami sampai di bawah sekitar pukul 14.00 wib. Kami memutuskan untuk bergegas ke terminal agar tidak tertinggal bus antar kota. Kami pulang mengendarai pick up untuk sampai ke masjid cisurupan dengan total biaya yang sama seperti pertama kali datang yaitu Rp.300.000.-/ 12 orang. Selanjutnya menaiki mobil elf dengan biaya Rp.20.000,-/orang menuju terminal garut. Sesampainya di terminal kami memutuskan untuk beristirahat, makan dan merapihkan perlengkapan, dan pada pukul 17.00 wib kami mulai perjalanan pulang kembali kerumah dengan biaya bus Rp.40.000.-/ orang dengan tujuan akhir terminal bekasi.
Perjalanan ini sangat di rekomendasikan bagi kalian para pecinta lingkungan terlebih untuk liburan keluarga. Pasalnya papandayan yang kini sudah menjadi objek wisata sudah memiliki banyak fasilitas. Perjalanan sehari bisa, ataupun ingin merasakan keindahan gunung dengan bermalam di alam pun bisa. Sedikit pesan dari penulis adalah meski dengan kemudahan yang sudah disediakan, jangan pula membiarkan diri meremehkan alam karna kita hanya bagian kecil dari besarnya kekuasaan Tuhan, bawalah sampah kembali dan jagalah lingkungan tetap bersih. Rencanakan perjalanan dengan matang juga sangat membantu perjalanan. Liburan yang cukup berkesan di sebuah mall tanpa toko-toko baju maupun time zone. Mall dengan segala keindahan yang dijual dengan harga usaha dan kerendahan hati untuk menikmati alam sangat amat patut dicoba. Membuat saya masih ingin kembali dan kembali.















0 komentar